Togel Online
Agen Judi Bola Online Terbesar
AFAPOKER
RGOBET
Bandar Sakong
Casino Online
Bandarq
Agen Bola
Texaspoker
Wigobet
Agen Bola Terpercaya Agen Bola Terpercaya
Agen Togel Online
Agen Poker Online

Di tengah hiruk pikuk kota metropolis. Di sebuah ruangan rumah sakit, tampak seorang dokter muda nan cantik yang sedang membereskan berkas-berkas pasien dan peralatan medisnya. Ia baru 1 bulan berpraktik sebagai dokter umum di rumah sakit tersebut, namun ia telah beberapa kali ditugaskan untuk jaga malam di fasilitas gawat darurat. Walau sebenarnya enggan, namun karena tuntutan tugas ia pun rela melakukannya. Hari sudah berangsur pagi, dan kini sudah saatnya bagi dokter muda itu untuk pulang.

“Sudah mau pulang, Dok? Gak sarapan dulu?” Tanya seorang suster kepadanya ketika ia sudah berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.

“Iya neh, Suster. Gampang nanti bisa sarapan di rumah koq. Terima kasih ya semalam sudah dibantu,” jawab dokter muda tersebut.

“Ah dokter bisa saja, itu kan memang sudah tugas saya untuk membantu dokter,” jawab sang suster sambil tersenyum manis.

“Sudah yah, saya pulang dulu. Laporan semalam sudah saya tinggalkan untuk Dokter Luthfia di ruangan.”

Setelah mengobrol dengan suster tadi, dokter muda tersebut langsung berjalan ke tempat parkir, di mana mobilnya berada. Di dekat sebuah mobil honda jazz berwarna hitam, ia pun menekan kunci mobil otomatis yang ia kantongi di saku jas hingga kunci mobil tersebut terbuka. Begitu masuk ke dalam mobil, ia langsung merebahkan bokongnya yang padat di atas jok pengemudi, melepaskan segala kepenatan yang ia alami semalam.

Tak lama kemudian, dering teleponnya berbunyi,

“Iya, Abi. Ada apa? …

Nadya baru selesai jaga, ini mau pulang ke rumah. Di rumah ada siapa?

Owh, abi mau pergi sama ummi. Yaudah gak apa-apa, Nadya bawa kunci koq.

Iya, hati-hati yah, assalualaykum.”

Dokter muda tersebut bernama lengkap Nadya Firdaus, lulusan terbaik dari Fakultas Kedokteran sebuah Universitas Islam di Jakarta. Ia baru berusia 25 tahun, umur di mana ia telah berkembang menjadi seorang wanita dewasa yang ranum. Tak hanya pintar dan cantik, ia juga merupakan sosok wanita yang alim dan taat beragama. Sejak lama ia telah menutup auratnya dengan hijab modis ala model hijab. Hal itu menambah kecantikannya.

Banyak lelaki yang mencoba untuk menjadi kekasihnya, bahkan melamarnya, namun semuanya ia tolak karena ia ingin berkonsentrasi dahulu mengembangkan kariernya. Sambil berpraktik, ia juga tengah menjalani studi Spesialis Dokter Syaraf.

Hanya butuh 1 jam bagi Dokter Nadya untuk sampai ke rumahnya yang terletak di sebuah kawasan elite perkotaan. Rumahnya besar, terdiri dari 2 lantai dan terdapat pula kolam renang di halaman belakang. Maklum saja, ayahnya adalah seorang pebisnis sukses, sehingga ia mampu membelikan segalanya untuk Nadya, yang merupakan anak satu-satunya. Mobil yang dikendarai Nadya juga dibelikan oleh sang ayah saat Nadya berada di semester 3 perkuliahan. Ayahnya selalu memastikan Nadya agar bisa mendapatkan pendidikan yang tinggi dan fasilitas hidup yang lengkap.

Sesampainya di rumah, Nadya langsung menuju kamarnya yang berada di lantai atas dan langsung melepaskan semua pakaian yang dikenakannya. Mulai dari jas dokter, hijab, kemeja lengan panjang, hingga rok panjang berwarna hitam, semua ia tanggalkan. Selanjutnya ia pun melepaskan kaitan branya, dan membiarkan bra tersebut jatuh ke lantai. Perlahan ia mematut tubuh bugilnya sendiri di depan cermin, ia memandangi payudaranya yang kian membesar dan bentuknya bulat. Warna putingnya belum begitu coklat, bahkan cenderung ke warna merah muda. Namun bentuknya memang sudah begitu sempurna, dan untuk menutupinya Nadya harus menggunakan bra berukuran 36D. Seringkali banyak pria mulai dari teman kuliah hingga pasiennya di rumah sakit yang memandangi dadanya, sekalipun masih tertutup jilbab dan jas dokter.

Sebelum masuk ke kamar mandi, tak lupa Nadya juga melepaskan celana dalamnya yang berwarna merah muda. Dengan segera ia pun menyiramkan air dingin ke seluruh tubuhnya, melepaskan rasa lelah setelah semalaman bergadang menunggu pasien di rumah sakit. Ia menggosok seluruh tubuhnya, termasuk pinggul dan kemaluannya yang dikelilingi bulu-bulu tipis.

Selesai membersihkan tubuh, Nadya pun mengenakan sebuah kaos lengan panjang dan rok berwarna hitam. Ia sempatkan juga untuk melakukan perawatan wajah seadanya demi menjaga kecantikan parasnya. Setelah ini ia sangat ingin memeluk guling dan tidur seharian.

Namun keinginannya tersebut sepertinya harus tertunda, karena tiba-tiba ia mendengar suara bel, tanda kalau ada tamu yang datang. Nadya pun langsung memakai jilbab panjang model bergo yang bisa langsung ia kenakan. Ia pun bergegas turun ke bawah dan menemui sang tamu, walaupun dengan sedikit menggerutu karena waktu istirahatnya jadi terganggu.

Ketika Nadya membuka pintu, ternyata yang datang adalah Mbah Kisman, seorang kuli yang telah lama bekerja untuk ayahnya yang sudah berusia 85 tahun.

“Assalamualaikum, Mbah. Cari abi yah?” Tanya Nadya.

“Iya, Non. bapak ada?”

“Wah, kebetulan abi sedang pergi.”

“Lama gak yah kira-kira, non?”

“Kalau itu Nadya gak tahu. Mau tunggu dulu di dalam?”

“Hmm, boleh deh.”

Nadya pun mempersilakan Mbah Kisman masuk dan duduk di sebuah sofa panjang di ruang tamu. Biasanya ia paling anti membolehkan pria yang bukan muhrim masuk ke rumahnya, apalagi ketika ia sedang sendirian. Namun karena yang datang ini adalah orang yang telah lama mengabdi untuk Keluarganya, Nadya pun membolehkannya masuk.

“Mau minum apa, Mbah?” Tanya Nadya begitu Mbah Kisman duduk.

“Apa saja, yang penting gak ngerepotin, non”

“Gak apa-apa koq Mbah. Nadya buatkan teh yah,” ujar Nadya sambil berjalan menuju ke dapur.

Di dapur, dengan cepat Nadya memasukkan teh celup dan air panas ke dalam sebuah cangkir. Namun ketika ia mencari gula, gadis cantik itu tidak menemukannya. Ia pun bingung, tak mungkin ia menyajikan teh tanpa gula, khawatir dianggap tidak sopan atau pelit.

Nadya melihat sekeliling dapur, dan akhirnya ia menemukan sebuah botol berisi cairan berwarna hitam, seperti madu. Ia pun mengambilnya dan mencicipi cairan di dalamnya. “Hmm, benar ini madu, namun kenapa rasanya sedikit berbeda yah?” Entah mengapa begitu meminum madu tersebut, tubuhnya jadi terasa hangat. Namun Nadya tak mempermasalahkannya karena memang tak ada pilihan lain, ia pun langsung memasukkan beberapa sendok madu ke dalam cangkir dan mengaduknya. *madunya adalah madu pembangkit gairah*

Nadya kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi secangkir teh. Dengan perlahan ia meletakkan cangkir tersebut di atas meja, di hadapan Mbah Kisman.

“Terima kasih, Non.” Ujar Mbah Kisman sambil menyeruput teh hangat tersebut hingga setengah cangkir. Pria tua tersebut langsung merasakan rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Terasa sedikit aneh, namun ia sama sekali tak menaruh curiga.

“Sama-sama Mbah. Kalau boleh tahu, ada perlu apa Mbah dengan abi?” Tanya Nadya.

“Ada keperluan, Non. bagaimana prakteknya, non, lancar?”

“Alhamdulillah lancar Mbah. Banyak sih pasien yang datang, tapi semuanya bisa ditangani dengan baik.”

“Baguslah kalau begitu.” Mbah Kisman kembali menyeruput teh yang dibuat Nadya. Kali ini Mbah Kisman kembali merasakan rasa hangat, yang semakin kuat saja. Ia memandang Nadya yang pernah ia rawat ketika kecil, sekarang telah berubah menjadi seorang wanita dewasa yang seksi. Tanpa sadar kemaluannya jadi membesar. Ia pun berusaha menutupi selangkangannya dengan tangan, menghalanginya dari pandangan Nadya. Apa yang akan dikatakan Nadya nanti jika tahu otong-nya sedang berdiri.

“Astaghfirullah,” gumam Mbah Kisman ketika ia merasa pikiran kotor sudah mulai masuk di pikirannya.

“Mbah tidak apa-apa? Koq kayak sakit begitu?” Tanya Nadya.

“Nggak apa-apa koq, non.” Mbah Kisman terpaksa berbohong. Sebenarnya ia merasakan jantungnya tiba-tiba berdetak lebih kencang, dan keringatnya pun mulai bercucuran. Pandangannya yang biasanya hanya sebatas pada wajah Nadya, kini mulai mengarah ke payudara dan paha Nadya yang tampak begitu indah. Sungguh indah sekali payudaramu, Nadya. Pahamu juga tampak bohai, begitu isi hati Mbah Kisman.

“Benar gak apa-apa Mbah ?” Nadya tak percaya dan mulai mendekat ke arah tempat duduk Mbah Kisman. Ia pun duduk di sebelah Mbah Kisman dan mengecek suhu tubuh Mbah Kisman dengan cara meletakkan tangannya di kening Mbah Kisman. Nalurinya sebagai dokter membuatnya tak nyaman apabila di dekatnya ada yang merasa sakit, terlebih bila yang merasa sakit adalah kuli yang telah lama mengabdi untuk ayahnya sendiri.

Namun gerakan tubuh Nadya yang sebenarnya sangat biasa tampak berbeda di mata Mbah Kisman. Ia merasakannya sebagai godaan, yang kemudian membuat kemaluannya makin membesar. Ia mulai menyadari kalau dokter muda yang di hadapannya benar-benar jelita dengan bentuk tubuh yang sempurna. “Benar koq Non, gak apa-apa.”

“Coba Nadya cek dulu tekanan darah Mbah . Tunggu sebentar, Nadya ambil alatnya dulu.” Ujar Nadya sambil menuju ke kamarnya di lantai atas. Tanpa ia sadari, Mbah Kisman yang sudah menaruh birahi padanya tak melepaskan pandangannya dari bokong Nadya yang indah. Apalagi ketika Nadya menaiki tangga di mana betisnya yang putih beberapa kali terlihat dari tempat Mbah Kisman duduk.

Mbah Kisman sempat berpikir untuk pergi, karena situasi ini sepertinya sudah tidak bisa ia tangani. Entah mengapa ia jadi begitu bergairah pada Nadya, dokter muda dan cantik yang memang menggairahkan. Memang sudah cukup lama ia tidak bermain cinta dengan istrinya yang juga sudah tua, namun biasanya ia mampu menahan gairahnya kepada wanita yang bukan istrinya. Ia curiga dengan minuman yang baru saja ia minum, namun sepertinya itu hanya teh biasa. Apa mungkin Nadya menjebaknya untuk menyetubuhinya? Pikiran itu malah membuat Mbah Kisman jadi semakin bergairah.

Tak lama kemudian, Nadya kembali dari lantai atas dengan sebuah alat pengukur tekanan darah. Ia pun kembali duduk di samping Mbah Kisman, membuat pria tua tersebut jadi semakin deg-degan.

“Maaf yah, Mbah . Coba tolong disingkap lengan bajunya,” Ujar Nadya sambil memasangkan alat tersebut di lengan Mbah Kisman. Ia pun kemudian memasangkan alat seperti stetoskop di telinganya. Nadya memasangnya dengan cara memasukkan alat tersebut dari balik jilbabnya.

Dengan serius, Nadya mengecek tekanan darah Mbah Kisman. Sementara itu, yang diperiksa malah semakin tinggi tekanan darahnya karena degup jantungnya yang semakin kencang. Harum tubuh Nadya yang baru selesai mandi membuatnya semakin terangsang hebat. Ia merasakan gairahnya sudah tidak bisa terbendung lagi. Apalagi ketika ia melihat bentuk payudara yang tercetak di jilbab Nadya.

“Sepertinya normal saja tekanan darahnya, Mbah . Cuma sedikit tinggi saja, tapi …. Aaaaarrrggghhh, Mbaaahhhhhh, apa yang Mbah lakukan?” Nadya baru selesai meletakkan peralatannya ketika tiba-tiba Mbah Kisman menyergap dan menindihnya di atas sofa panjang tempat mereka duduk. Spontan ia berteriak dan memberontak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Mbah yang sudah dimabuk birahi tersebut.

“Maaf, Non Nadya. Tapi saya sudah tidak tahan lagi, tubuhmu benar-benar seksi dan menggairahkan.” Ujar Mbah Kisman sambil berusaha mencium bibir Nadya yang terbuka, menutupnya agar tidak lagi berteriak.

Walau mulutnya tertutup oleh mulut Mbah Kisman, namun Nadya tetap mencoba memberontak untuk melepaskan diri. Ia tak menyangka kalau Mbah yang sangat ia hormati sampai tega menjamahi tubuhnya. Nadya begitu takut kalau hari ini akan berakhir dengan terenggutnya keperawanannya yang suci. Tanpa ia sadari air matanya mulai merembes keluar.

Dengan beringas, Mbah Kisman terus menggumuli tubuh indah Nadya, dan berusaha menahan rontaan gadis cantik tersebut. Tangannya yang bebas menarik ujung rok yang dikenakan Nadya ke atas, membuat paha Nadya yang putih itu terbuka. Mbah Kisman langsung meletakkan tangannya yang mulai keriput di atas paha indah tersebut, dan merasakan kulit Nadya yang begitu halus. Ia mengusapnya naik turun, makin lama makin ke atas mendekati kemaluan Nadya.

“Kulitmu halus sekali Bu Dokter, bikin kontol Mbah jadi tegang,” akhirnya keluar juga kata-kata kotor yang sedari tadi ditahan oleh Mbah Kisman. Sebenarnya Mbah Kisman memang lelaki yang suka perempuan muda. Namun selama ini ia selalu bisa menahan diri atau tidak punya kesempatan untuk melakukan apa yang ia lakukan sekarang. Baru sekarang ia terjebak ke dalam pusaran birahi yang dalam, hingga akhirnya berkata-kata nakal seperti itu.

“Bajingan kau Mbah , kalau orang tuaku tahu kau pasti akan dibunuh.” Teriak Nadya.

“Jangan gegabah, Bu Dokter. Orang tuamu gak akan percaya kalau saya yang sudah bertahun-tahun mengabdi akan melakukan hal ini. Paling kau yang akan dituduh telah berbuat zina dengan teman-teman priamu, atau mungkin dengan pasienmu?” Ujar Mbah Kisman sambil tertawa. Kata-kata itu meluncur begitu saja. Ia sendiri sudah kehabisan akal untuk membuat Nadya menyerah.

Nadya merenungi kata-kata Mbah Kisman dan begitu takut kalau apa yang ia katakan menjadi kenyataan. Tak ada bukti yang bisa menunjukkan kalau Mbah Kisman melakukan tindakan tercela ini. Ia pun menjadi bingung.

Di saat yang sama, Nadya merasakan tangan Mbah Kisman terus bergerilya dengan binal di atas pahanya, bahkan hingga selangkangannya. Elusan dan rabaan yang kasar itu membuatnya ikut terangsang. Nadya yang memang tidak pernah mempunyai pacar, selama ini hanya bisa membayangkan bagaimana nikmatnya bercumbu dengan lawan jenis. Kini ia pun merasakannya, bahkan tak hanya bercumbu, namun ia langsung digumuli dan di awal sebuah persetubuhan. Hal ini membuatnya begitu kaget hingga birahinya seperti akan meledak.

“Hentikan Mbah sialan, aku benci kamu aku benciiiiiiii …”

“Benci? Benar-benar cinta? Hahaha … Lebih baik kau menyerah saja dokter cantik, agar kita bisa menikmati kebersamaan kita dengan lebih nyaman. Mbah jamin kamu pasti akan ketagihan dengan kenikmatan yang Mbah berikan, hahaha …”

“Dasar Mbah kurang ajar … !!!” Nadya melepaskan teriakannya yang paling keras. Namun karena rumah tersebut kosong, serta jauh dari tetangga, suara teriakan Nadya pun tak ada yang mendengar. Nadya pun berusaha meronta sekuat tenaga, namun ia masih tak berdaya di bawah kungkungan tubuh Mbah Kisman yang cukup bertenaga.

Jemari Mbah Kisman mulai bermain di atas celana dalam Nadya yang berada di balik rok panjangnya. Pria tua itu melakukannya sambil menciumi pipi dan leher Nadya. Tubuh sintal dokter muda tersebut ia peluk erat agar tidak lagi meronta.

Nadya masih terus berjuang, walaupun tenaganya sudah mulai berkurang. Ia kini mencoba untuk mencakar punggung Mbah Kisman, namun gagal karena baju yang dikenakan Mbah Kisman ternyata cukup tebal. Ia hampir kehabisan ide untuk lepas dari kondisi berbahaya ini.

Mbah Kisman mulai menjilati wajah Nadya, sekalipun Nadya ngotot untuk memejamkan mata dan terus menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan. Namun Nadya tampak terkejut ketika Mbah Kisman mulai meremas-remas bokongnya dari balik rok. Bokong padat yang berbentuk bulat tersebut sama sekali belum pernah disentuh oleh siapapun, hingga hari ini. Mbah Kisman meremasnya dengan sekuat tenaga, berusaha membangkitkan gairah Nadya. Tak cukup dengan begitu, pria tua itu pun menarik celana dalam Nadya hingga terlepas.

“Montok banget pantatmu, Bu Dokter. Bikin aku jadi tambah sange ajaa …”

“Aaahhhhh, apa yang kau lakukan. Jahanaaaaammmm …” Nadya kembali meronta ketika Mbah Kisman meloloskan celana dalamnya hingga terlepas. Kemaluannya kini terbuka lebar. Ia pun menendang-nendangkan kakinya berusaha berontak dari dekapan Mbah Kisman.

Rontaan itu baru berhenti ketika tangan kanan Mbah Kisman meremas kemaluannya dari balik rok. Gundukan indah yang berbulu tipis itu tertutupi seluruhnya oleh tangan Mbah Kisman, termasuk kemaluan suci Nadya yang mulai berdenyut pelan. Nadya pun terdiam, tangan tersebut adalah tangan pertama yang menyentuh kemaluannya dan ternyata rasanya begitu geli.

“Hentikan, Mbah … Aku mohooonnn, aku masih perawan.” Rintih Nadya memelas, mengharapkan rasa kasihan dari Mbah Kisman. Perlawanannya sudah mulai mereda, namun keinginan untuk lepas dari pelukan Mbah Kisman tetaplah ada.

Namun semuanya sudah sia-sia. Mbah Kisman sudah begitu dimabuk birahi hingga kehilangan akal sehatnya. Ia telah lupa kalau ia merupakan seorang Mbah yang seharusnya menjadi panutan dalam beragam, bukannya malah merusak masa depan seorang gadis muda.

“Justru karena kau masih gadis, makanya aku ingin jadi yang pertama menyetubuhimu, Bu Dokter.” Ujar Mbah Kisman dengan wajah menyeringai yang tanpak mesum. “Sudah lama aku tidak mendapatkan kenikmatan menembus keperawanan seorang wanita.”

Di bawah, Mbah Kisman mulai memasukkan jari telunjuknya ke dalam kemaluan Nadya, membuat pemiliknya yang cantik itu terpaksa mengeluarkan desahan, “ahhhh, hentikan Mbah …”

Mbah Kisman berusaha menutup mulut Nadya dengan cara menciumnya. Ia pun menarik kepala Nadya yang berbalut jilbab panjang dengan tangan kirinya, agar jadi semakin dalam ciumannya. Dekapan itu membuat Nadya semakin terlena. Ia yang tak terbiasa pun mulai merasakan gejolak di selangkangannya.

Mbah Kisman terus menggerak-gerakkan telunjuknya di dalam kemaluan Nadya, sambil menggelitik itilnya. Kemaluan tersebut perlahan tapi pasti mulai basah dengan cairan cinta. Tahu korbannya mulai menyerah, Mbah Kisman malah semakin memperkuat kobelannya.

“Tadi bilangnya gak mau, tapi koq malah basah sih Bu Dokter, hahaha”

Lama kelamaan, Nadya pun semakin tak kuat menahan gejolaknya, tubuhnya menegang, matanya terpejam, tangannya yang tadinya mencakar ganti meremas punggung Mbah Kisman, kakinya terjulur lurus …. Dan, “aaaahhhhhhhhhhhhhhh.” Sebuah desahan panjang menandai orgasme yang melanda Nadya.

Mbah Kisman memanfaatkan situasi itu untuk memeluk lebih erat tubuh Nadya. Ia melumat bibir akhwat cantik itu lebih dalam, dan tangannya yang baru saja ia gunakan untuk mengobel vagina Nadya ia alihkan untuk meremas payudara Nadya. Cairan cinta yang masih menempel di jarinya pun ikut membasahi kaos lengan panjang yang dikenakan Nadya.

“Duhh, besar sekali toketmu, Bu Dokter. Pasti enak neh kalau aku hisap-hisap pentilnya”

Dengan perlahan, Mbah Kisman meremas payudara Nadya yang bulat dan besar. Sesekali ia naikkan posisi tangannya hingga menyentuh leher dokter cantik tersebut, mencoba menggelitik. Sementara itu, Nadya masih menikmati gelombang orgasme yang menderanya.

“Ampuni Nadya, Mbah . Tolong sudahi ini, ini zina, ini terlarang di agama kita …” Desah Nadya di sela-sela pelepasan birahinya.

“Tapi kau menikmatinya kan sayang, buktinya kau sampai orgasme. Kau tak akan orgasme kalau kau tidak menginginkannya,” bisik Mbah Kisman di telinga Nadya. Hembusan napas Mbah Kisman di telinganya membuat Nadya semakin birahi.

Nadya pun memejamkan mata, ia sadar kalau mimpi buruknya baru saja dimulai. Remasan Mbah Kisman di payudaranya makin lama semakin kencang saja. Entah mengapa, namun Nadya merasakan begitu nikmat, seperti melayang. Ia pun sudah mulai melupakan jati dirinya sebagai seorang dokter muslimah yang suci.

Merasa Nadya sudah kian pasrah, Mbah Kisman pun memberanikan diri untuk melepas rok yang dikenakan Nadya. Sempat menolak, namun pantat Nadya terangkat juga ketika Mbah Kisman meremas kembali payudaranya. Rok panjang itu pun terlepas dan berserakan di lantai, menyingkap vagina suci Nadya hingga jelas terlihat.

Mbah Kisman mendudukkan Nadya di atas sofa, sedangkan dia sendiri turun ke bawah dan mulai mengelus-elus betis dan paha Nadya yang halus dan indah. Perlahan ia mendekatkan kepalanya ke selangkangan Nadya dan menggesek-gesekkan hidungnya di vagina Nadya. Vagina itu masih berbau cairan cinta segar, bekas orgasme pertama yang dialami Nadya.

Tak menunggu lama, Mbah Kisman pun langsung menjulurkan lidahnya untuk menjilat kemaluan dokter cantik tersebut. Mbah Kisman sepertinya sudah terbiasa memuaskan wanita, terlihat dari begitu gesitnya ia memainkan titik-titik sensitif di tubuh Nadya.

“Aaahhhh … Sudah Mbah , saya gak tahaaaannnn,” Nadya hanya bisa memejamkan mata diperlakukan begitu oleh Mbah Kisman. Tanpa ia inginkan, tangannya justru menekan kepala Mbah Kisman agar lebih dalam menekan ke vaginanya. Ia tampak puas dengan permainan oral sex yang dipraktekkan Mbah Kisman. “Nggghhhh …”

“Gmana Bu Dokter? Enak kan jilatan saya … Ini belum seberapa lho, apalagi kalau Dokter mau dijilat pake kontol saya,” lidah tua Mbah Kisman sepertinya masih begitu bertenaga untuk memberi kepuasan kepada Nadya. Pinggul Nadya pun ikut naik turun seperti meminta untuk terus diberi kenikmatan.

15 menit kemaluannya dijilati, ternyata sudah cukup untuk membangkitkan birahi muda Dokter Nadya ke puncaknya yang tertinggi. Ia pun menegang ketika Mbah Kisman memasukkan lidahnya ke dalam vagina Nadya dalam-dalam. Nadya kembali menekan kepala Mbah Kisman, badannya melengkung ke depan, kemudian …

“Nggghhhhhh, aaaahhhhhh, kamu gila mbahhhhh !!”

Nadya kembali merasakan orgasme yang kedua, kali ini dengan dibantu lidah Mbah Kisman. Tanpa merasa jijik, Mbah berusia 85 tahun itu pun langsung menghisap cairan vagina yang keluar dari tubuh Nadya. Ia pun sampai menjilati sisa-sisa cairan yang menetes di kiri dan kanan selangkangan dokter cantik yang lebih pantas sebagai cucunya tersebut.

Mbah Kisman membiarkan Nadya menikmati orgasmenya selama beberapa menit, sebelum akhirnya ia kembali merebahkan Nadya di atas sofa. Dua kali orgasme membuatnya jadi begitu lemas untuk melawan, dan lebih memilih untuk menikmati rangsangan demi rangsangan yang diberikan Mbah Kisman.

Melihat tubuh Nadya yang sedang terbaring, dengan bagian bawah tubuh yang terbuka, membuat gairah Mbah Kisman semakin meninggi saja. Berbeda dengan Nadya yang sudah 2 kali orgasme, Mbah Kisman sama sekali belum merasakan kenikmatan. Ia pun membuka celana panjang dan celana dalam yang ia kenakan hingga penisnya menjulang keluar.

“Ahhh … ” jerit Nadya ketika melihat kemaluan Mbah Kisman yang masih begitu besar di usia senjanya. Nadya sering melihat penis saat ia menjalani studi di sekolah kedokteran, namun belum ada yang bentuknya besar dan dalam keadaan sangat tegang seperti ini. Karena itu Nadya pun tersadar dan hendak kabur dari Mbah Kisman.

“Heitss … Mau ke mana kamu Bu Dokter?” Ternyata gerakan Nadya masih kalah cepat. Belum sempat ia kabur, Mbah Kisman telah terlebih dahulu merangkul pinggulnya dari belakang. Mbah Kisman pun langsung menarik Nadya ke dalam dekapannya.

“Ampuni Nadya, Mbah . Nadya janji gak akan bilang siapa-siapa. Kasihani Nadya yang masih gadis ini …”

“Tenang saja, Manis. Saya gak akan menyakiti kamu koq. Saya cuma ingin bersenang-senang …” Ujar Mbah Kisman sambil menciumi leher Nadya yang masih berbalut jilbab. Tangan Mbah Kisman pun masuk ke balik kaos lengan panjang Yang dikenakan Nadya dan mengusap-usap sepasang gunung kenikmatan milik Nadya yang masih tertutup bra.

“Ahhh, ahhh, sudah Mbah . Hentikaaaannn … Ah ah ah” larangan Nadya yang diselingi dengan desahan itu malah membuat nafsu Mbah Kisman semakin bergejolak. Ia pun makin mengencangkan remasannya pada payudara Nadya.

“Empuk sekali sih toketmu Bu Dokter, pernah diremas-remas sama pasien kamu gak?” Ucapan Mbah Kisman semakin kotor saja, seiring nafsunya yang kian memuncak. Nadya pun merasakan dorongan penis Mbah Kisman dari arah belakang pada pantatnya yang terbuka.

“Ampun mbaahhhhhhh, ahhh … Ahhh” Nadya berteriak kencang ketika Mbah Kisman mengeluarkan payudaranya dari bra, dan memilin-milin putingnya. Hal itu membuat Nadya menggelinjang hebat.

Seakan sudah tak tahan untuk dipuaskan, Mbah Kisman kembali merebahkan Nadya di atas sofa dan merenggangkan selangkangannya. Vagina Nadya yang selalu terawat pun kembali terekspos di hadapan Mbah Kisman.

“Indahnya … ” gumam Mbah Kisman sambil menindih tubuh indah Nadya. Dokter muda nan jelita itu pun hanya bisa pasrah ketika Mbah Kisman mulai mengarahkan penisnya ke bibir vaginanya. Ia tahu ini semua akan terjadi, walau ia masih ingin melepaskan diri dari situasi ini.

“Mbaahhhhhhh …” Lirih Nadya sambil meneteskan air mata. Kesucian yang ia jaga selama ini, sebentar lagi akan pupus di ujung kemaluan seorang kuli tua.

Tak peduli akan rintihan dan tangisan Nadya, Mbah Kisman mulai menggesek-gesekkan penisnya di selangkangan Nadya. Kulup penisnya yang sudah disunat tampak menyundul-nyundul belahan vagina yang merekah. Nadya merasakan rasa geli yang sangat, apalagi ketika ujung penis Mbah Kisman yang besar mulai menyelinap masuk ke dalam liang kesuciannya.

Nadya masih mencoba berontak, walau gagal. Ia menggoyangkan seluruh tubuhnya untuk menghindar, namun hal itu malah memudahkan penis Mbah Kisman untuk masuk lebih dalam, lebih dalam, dan lebih dalam lagi.

“Aaarreggghhhh …. Nikmatnyaaaaa” desah Mbah Kisman ketika penisnya sudah terbenam di dalam kemaluan Nadya yang masih begitu sempit. Ia lihat wajah dokter cantik itu, matanya terpejam, dan bibirnya sedikit terbuka. Tanpa ampun, Mbah Kisman kembali melimat bibir indah tersebut dengan penuh birahi.

“Nikmat sekali memek kamu, Bu Dokteeeerrr …” Bisik Mbah Kisman di sela-sela ciuman mesranya di bibir Dokter Nadya.

Sambil mendekap tubuh Dokter Nadya yang sintal, Mbah Kisman mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Ia mulai dengan begitu perlahan, agar gadis muda itu tidak merasa kesakitan. Ia tidak bisa membedakan apakah Nadya sedang merintih atau mendesah, karena bibir Nadya masih ia lumat. Lama kelamaan, gerakan tersebut makin cepat, dan terus makin cepat.

Nadya tak bisa menyangkal kalau persetubuhan yang pertama dialaminya ini benar-benar nikmat. Kemaluannya seperti dibuat geli, dengan tersentuhnya seluruh syaraf-syaraf sensitif di dalamnya. Rasa nikmat itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuat jantungnya berdegup kencang, puting payudaranya mengeras, dan pinggulnya mulai bergerak seolah minta terus dipuaskan. Desahan demi desahan mulai keluar dari bibir manisnya, sebagai tanda kalau ia ikut menikmati persenggamaan ini, sekalipun hati kecilnya menolak.

“Benar kan, Cantik. Nikmat dientotin Mbah seperti ini, hahaha” Mbah Kisman masih sempat menertawai kekalahan Nadya dalam pertempuran birahi ini. Ia senang karena Dokter cantik tersebut kini sudah tunduk dan pasrah ia kuasai kemaluannya. Ia pun menggoyang-goyang kemaluannya dengan lebih liar, terkadang ia juga memutar-mutar penisnya di dalam vagina Nadya.

“Hentikan, Mbah , ohhhh oh oh, nikmat Mbah , tapi hentikaaaann, ahhh”

“Jadi lanjutkan atau hentikan neh?” Tanya Mbah Kisman sambil terus menggenjot memek Nadya yang terus berdenyut.

“Ini salah Mbah , ini zina … Tapi nikmat, ahhh” Nadya mulai mengikuti irama pinggul Mbah Kisman, berusaha menuntaskan birahinya yang baru kali ini bisa dilepaskan. Wajah cantiknya yang berbalut jilbab panjang sebenarnya terlihat begitu suci, namun Nadya malah menunjukkan ekspresi yang binal.

“Saya bilang juga apa, Bu Dokter … Neh, terima sodokan kontol saya, kuhamili bu dokter cantik” Mbah Kisman makin bersemangat saja menyetubuhi dokter muda tersebut. Tubuhnya yang masih ranum membuatnya jadi sasaran birahi yang begitu nikmat. Mbah Kisman pun merasakan kalau birahinya sendiri juga akan meledak.

Sekarang ruang tamu tersebut hanya diisi suara desahan dan erangan dari 2 insan berbeda jenis kelamin dan berbeda usia. Yang satu adalah seorang kuli tua yang hitam jelek, sedangkan yang satunya adalah dokter muda yang cantik, pintar, dan alim. Namun keduanya telah menyatu dalam sebuah pertarungan birahi yang penuh kenikmatan. Keduanya mengarungi perlayaran gairah yang terlarang hingga hampir mencapai puncaknya.

Ketika penisnya terasa akan meledak, Mbah Kisman pun menekan penisnya lebih dalam lagi. Sadar vaginanya akan dihujani sperma terlarang, Nadya pun kembali menggeliat, “jangan di dalam Mbah , aku mohoooonnn …. Ahhhh nanti saya hamil”

“Sudah jangan banyak bacot, nikmati saja dokter cabul akan kutanam benihku di rahimmu.” Seru Mbah Kisman sambil menekan lebih dalam.

Tubuh Nadya ikut menegang, ia balas memeluk dan menjambak rambut Mbah tua tersebut yang masih memakai baju koko. Birahinya juga ikut terpancing merasakan tubuh Mbah Kisman yang kian tegang. Ia rasakan penis Mbah Kisman semakin hangat, semakin membesar, daaaaannn ….

“Aaaaahhhhhh …” Mbah Kisman setengah berteriak ketika penisnya menyemburkan ribuan sperma ke dalam kemaluan Nadya yang sempit dan legit. Ia pun menanamkan penisnya sedalam mungkin agar lebih bisa menikmati kepuasan tersebut.

Sementara di bawahnya, tampak Nadya yang memalingkan muka, dan hanya pasrah ketika vaginanya dihujani mani oleh Mbah Kisman. Dalam hati ia pun ikut menikmatinya, bahkan ia juga ikut orgasme, walaupun tidak sehebat ketika orgasme pertama dan keduanya. Namun dokter muda itu tak ingin menunjukkannya pada Mbah Kisman.

Melihat itu, Mbah Kisman pun menarik kepala Nadya dan mencium bibir seksi dokter cantik tersebut. Pria tua itu melakukannya sambil tetap menanamkan penisnya di vagina Nadya, dan memuncratkan sisa-sisa spermanya. Mbah Kisman mulai membelitkan lidahnya ke lidah Nadya, serta menyelipkan tangannya untuk kembali meremas-remas payudara Nadya.

Nadya pun jadi tidak tahan dibuatnya. Ia pun balas membelit lidah Mbah Kisman dan memeluk tubuh renta pria tua tersebut. Ia bahkan membelitkan kakinya ke pinggul Mbah Kisman. Nadya seperti lupa statusnya sebagai dokter muda yang suci.

Setelah puas dengan kenikmatan yang ia terima dari vagina Nadya, Mbah Kisman pun mengeluarkan penisnya. Terlihat cairan sperma yang bercampur darah keluar dari kemaluan dokter cantik tersebut.

“Ternyata kamu bener-bener perawan yah Bu Dokter. Pantes legit banget memeknya,” ujar Mbah Kisman dengan muka mesum. Nadya hanya memejamkan mata, ia masih menikmati orgasme yang kembali melandanya. Mbah kisman benar-benar puas berhasil memperawani dokter cantik itu, sedangkan nadya mulai merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya, dia merasakan kenikmatan dan kenyamanan dalam bersetebuh tadi, apa yang akan selanjtunya terjadi antara kuli tua dan dokter cantik ini, apakah akan melakukan hubungan lagi atau bahkan nadya jatuh cinta dan menjadi istri muda kuli tua ini